Securly
Platform pemantauan keselamatan siswa dan kesehatan digital berbasis AI untuk perangkat sekolah
Securly melayani sekolah K-12, menyediakan penyaringan konten dan deteksi risiko siswa pada perangkat yang dibagikan sekolah. Modul Aware-nya menganalisis aktivitas siswa pada perangkat yang dipakai di sekolah, mengenali sinyal kecenderungan menyakiti diri sendiri, perundungan, atau kekerasan, lalu memberi tahu petugas konseling untuk turun tangan.
Fitur dan Skenario Penggunaan
Lini produknya mencakup penyaringan konten internet, pengelolaan perangkat kelas, peringatan dini kesehatan mental siswa (Aware), dan modul komunikasi guru-orang tua. Cakupan analisis Aware meliputi aktivitas media sosial, surel, dokumen, penggunaan AI percakapan, dan penjelajahan web pada perangkat yang dipakai di sekolah, dengan AI menilai apakah muncul sinyal permintaan tolong yang perlu diperhatikan.
Cocok untuk distrik sekolah bersistem Amerika yang punya banyak Chromebook bagian sekolah. Lingkungan digital sekolah dan ekspektasi guru-orang tua di Indonesia berbeda, sehingga tingkat penerimaan dan dasar hukum pemantauan semacam ini perlu dievaluasi tersendiri, tetapi gagasan "memakai AI untuk menemukan anak yang butuh pendampingan" yang ia tunjukkan layak dijadikan referensi.
Fitur Utama
- Penyaringan konten internet pada perangkat sekolah
- Aware: deteksi sinyal risiko menyakiti diri dan kekerasan siswa dengan AI
- Analisis aktivitas yang mencakup media sosial, surel, dokumen, dan AI percakapan
- Pengelolaan perangkat kelas dan mode fokus di kelas
- Komunikasi guru-orang tua dan visibilitas di sisi orang tua
Penggunaan Umum
- Distrik sekolah mendeteksi sinyal permintaan tolong terkait menyakiti diri atau perundungan pada siswa
- Guru mengelola penggunaan perangkat siswa di kelas
- Sekolah menyusun kebijakan penyaringan konten internet
- Orang tua mengetahui pola penggunaan perangkat sekolah oleh anak
Fitur Utama
- Penyaringan konten internet pada perangkat sekolah
- Aware: deteksi sinyal risiko menyakiti diri dan kekerasan siswa dengan AI
- Analisis aktivitas yang mencakup media sosial, surel, dokumen, dan AI percakapan
- Pengelolaan perangkat kelas dan mode fokus di kelas
- Komunikasi guru-orang tua dan visibilitas di sisi orang tua
Kelebihan
- Menyatukan peringatan dini kesehatan mental ke dalam pengelolaan perangkat sehari-hari, sehingga saat intervensi lebih dini
- Cakupannya luas, termasuk penggunaan AI percakapan yang baru ditambahkan belakangan
- Pengalaman deployment praktis di distrik sekolah Amerika sangat kaya
Kekurangan
- Kontroversi privasi siswa besar, ruang lingkup pemantauan perlu kebijakan dan pemberitahuan yang jelas
- Positif palsu dari penilaian AI dapat menimbulkan pelabelan yang tak perlu, sehingga butuh peninjauan manusia
Contoh Penggunaan
- Distrik sekolah mendeteksi sinyal permintaan tolong terkait menyakiti diri atau perundungan pada siswa
- Guru mengelola penggunaan perangkat siswa di kelas
- Sekolah menyusun kebijakan penyaringan konten internet
- Orang tua mengetahui pola penggunaan perangkat sekolah oleh anak
Catatan Editor
Tulisan ini saya susun dengan perasaan bertentangan. Nilai memakai AI untuk menemukan lebih dini anak yang ingin bunuh diri tak perlu dijelaskan lagi; tetapi harga dari "memantau menyeluruh aktivitas digital siswa" juga sangat nyata. Pandangan saya: teknologinya boleh diadopsi, tetapi pembahasan kebijakan pendampingnya tidak boleh dilewatkan.
FAQ
Apakah pemantauan semacam ini melanggar privasi siswa?
Ini kontroversi paling inti dari produk semacam ini. Yang dipantau adalah seluruh perangkat dan akun milik sekolah, secara hukum umumnya dapat dilakukan, tetapi secara etis harus ada pemberitahuan kebijakan yang jelas, pembatasan tujuan, pembatasan pihak yang boleh mengakses, dan penilaian manusia tetap dipertahankan. Jika ingin diterapkan di Indonesia, penerapan UU PDP dan regulasi pendidikan perlu diperjelas lebih dulu.
Apakah sekolah di Indonesia bisa memakainya?
Secara teknis bisa, tetapi penilaian kontennya berbasis bahasa Inggris, dan efektivitas pengenalan sinyal dalam bahasa Indonesia belum teruji. Ditambah lagi, tingkat penerimaan sosial dan dasar hukum pemantauan digital terhadap siswa di sekolah Indonesia berbeda dengan Amerika, sehingga perlu pembahasan yang matang sebelum penerapan.